Tuesday, September 9, 2014

Topeng Allah

Luther mengatakan bahwa ketika kita berdoa "berikanlah pada hari ini makanan secukupnya", kita berdoa untuk segala sesuatu yang memiliki kontribusi menjadikan makanan tersedia di atas meja, siap untuk disantap. Kita harus terbuka dan memperluas pikiran kita, sehingga tidak hanya memikirkan nasi/sayur yang ada di dalam piring. Lebih luas dari pada itu, kita juga memikirkan ladang, sawah, dan seluruh negeri yang memproduksi, memproses dan menyediakan seluruh makanan yang kita nikmati.

Lalu bagaimana Allah memberi makan kepada setiap mahluk hidup (Maz. 145:16) hari ini? Bukankah melalui petani, koki, pedagang, pembuat website, supir truk, dan semua yang berkontribusi untuk menyalurkan makanan kepada kita. Luther melanjutkan: Allah dapat dengan mudah memberi kita beras dan buah-buahan tanpa harus menabur dan menanam, tetapi Ia tidak mau melakukan hal tersebut.

Ia memberikan analogi mengapa Allah bekerja seperti ini. Orang tua ingin memberikan anak-anak mereka apa saja yang mereka butuhkan, tetapi mereka juga ingin agar anak-anak mereka menjadi rajin, bersikap yang benar/baik dan bertanggung jawab. Lalu mereka memberikan tugas harian rutin kepada anak-anak mereka. Orang tua bisa saja melakukan tugas rutin harian lebih baik dari anak-anak mereka, tetapi hal tersebut tidak membantu anak-anak mereka bertumbuh menjadi lebih dewasa. Jadi, orang tua memberikan anak-anak mereka apa yang mereka butuhkan - karakter - melalui pekerjaan harian yang ditugaskan kepada mereka.

Luther menyimpulkan bahwa Allah bekerja melalui apa yang kita lakukan (pekerjaan) dengan alasan yang sama: Pekerjaan yang kita lakukan untuk Tuhan - apakah di ladang, di taman, di kota, di rumah, dalam perang, atau di pemerintahan - hanyalah pekerjaan seorang anak, yang melalui aktivitas tersebut Ia ingin memberikan anugerahNya. Ada topeng-topeng Allah, di mana Ia bersembunyi dan tetap melakukan segala sesuatu.

Dari Every Good Endeavor oleh Timothy Keller 

Sunday, September 7, 2014

The Sacrament of the Present Moment

De Caussade mengerti bahwa kesetiaan kita pada “tugas pada saat ini” adalah jalan setapak kepada kekudusan. Jika buat kita tugas pada saat ini adalah untuk memperbaiki daun pintu atau mengumpulkan/memangkas daun, maka kegiatan berdoa atau meditasi sebagai ganti pada saat yang sama akan “merusak dan tidak berguna”. Tidak ada momen yang tidak penting, de Caussade mengamati, karena sejak mulanya setiap momen mengandung sebuah Kerajaan ilahi, dan topangan surgawi.

Pekerjaan/tugas pada saat ini sebagai tempat di mana saya menemukan Tuhan tidaklah selalu menyenangkan. Mungkin Anda juga mengalami kesulitan di saat seperti ini. Seringkali saya ingin “melompat” saja dari saat ini, dari tugas ini, langsung menuju ke masa depan, sesuatu masa yang lebih menantang, lebih merangsang, lebih mendatangkan pahala. Saat seperti itulah, saya berpikir, saat di mana Tuhan akan memberkati saya, bukan di sini, bukan dengan melakukan tugas/perkerjaan ini.

Sebuah kebenaran yang sederhana, tentu saja, adalah bahwa Tuhan hanya dapat memberkati saya di mana saat ini saya berada, karena saya hanya berada di sini. Saya ambil tugas menulis ini sebagai contoh: ada banyak tugas yang saya rasakan lebih penting, lebih mendesak, lebih membawa hormat pada Tuhan dari pada hanya sekedar menulis. Tetapi justru dengan menyelesaikan tugas ini saya akan menemukan Tuhan; buat saya pekerjaan kecil ini adalah “sacrament of the present moment.”


Sebagaimana saya sudah menyebutkan pada awal tadi, penekanan bahwa hal-hal yang umum dalam hidup ini memiliki nilai-nilai kerohanian yang signifikan adalah sebuah tema yang menggema kembali melalui seluruh waktu-waktu doa kita dan saat-saat merenungkan Firman Tuhan. Waktu-waktu seperti ini mengambil hari-hari hidup kita dan jam-jam hidup kita dan memberi arti bahwa kegiatan harian kita adalah kegiatan yang kudus, sebuah bentuk penyembahan dan pujian buat Tuhan kita. Cara inilah yang membuat hidup di dunia modern (yang serba cepat dan menuntut seluruh kekuatan dan hidup kita)  bisa kita tanggung, bahkan lebih lagi, kita malah bisa bersukacita di dalamnya.

-Anonim-