Sunday, September 7, 2014

The Sacrament of the Present Moment

De Caussade mengerti bahwa kesetiaan kita pada “tugas pada saat ini” adalah jalan setapak kepada kekudusan. Jika buat kita tugas pada saat ini adalah untuk memperbaiki daun pintu atau mengumpulkan/memangkas daun, maka kegiatan berdoa atau meditasi sebagai ganti pada saat yang sama akan “merusak dan tidak berguna”. Tidak ada momen yang tidak penting, de Caussade mengamati, karena sejak mulanya setiap momen mengandung sebuah Kerajaan ilahi, dan topangan surgawi.

Pekerjaan/tugas pada saat ini sebagai tempat di mana saya menemukan Tuhan tidaklah selalu menyenangkan. Mungkin Anda juga mengalami kesulitan di saat seperti ini. Seringkali saya ingin “melompat” saja dari saat ini, dari tugas ini, langsung menuju ke masa depan, sesuatu masa yang lebih menantang, lebih merangsang, lebih mendatangkan pahala. Saat seperti itulah, saya berpikir, saat di mana Tuhan akan memberkati saya, bukan di sini, bukan dengan melakukan tugas/perkerjaan ini.

Sebuah kebenaran yang sederhana, tentu saja, adalah bahwa Tuhan hanya dapat memberkati saya di mana saat ini saya berada, karena saya hanya berada di sini. Saya ambil tugas menulis ini sebagai contoh: ada banyak tugas yang saya rasakan lebih penting, lebih mendesak, lebih membawa hormat pada Tuhan dari pada hanya sekedar menulis. Tetapi justru dengan menyelesaikan tugas ini saya akan menemukan Tuhan; buat saya pekerjaan kecil ini adalah “sacrament of the present moment.”


Sebagaimana saya sudah menyebutkan pada awal tadi, penekanan bahwa hal-hal yang umum dalam hidup ini memiliki nilai-nilai kerohanian yang signifikan adalah sebuah tema yang menggema kembali melalui seluruh waktu-waktu doa kita dan saat-saat merenungkan Firman Tuhan. Waktu-waktu seperti ini mengambil hari-hari hidup kita dan jam-jam hidup kita dan memberi arti bahwa kegiatan harian kita adalah kegiatan yang kudus, sebuah bentuk penyembahan dan pujian buat Tuhan kita. Cara inilah yang membuat hidup di dunia modern (yang serba cepat dan menuntut seluruh kekuatan dan hidup kita)  bisa kita tanggung, bahkan lebih lagi, kita malah bisa bersukacita di dalamnya.

-Anonim-


No comments:

Post a Comment