Luther mengatakan bahwa ketika kita berdoa "berikanlah pada hari ini makanan secukupnya", kita berdoa untuk segala sesuatu yang memiliki kontribusi menjadikan makanan tersedia di atas meja, siap untuk disantap. Kita harus terbuka dan memperluas pikiran kita, sehingga tidak hanya memikirkan nasi/sayur yang ada di dalam piring. Lebih luas dari pada itu, kita juga memikirkan ladang, sawah, dan seluruh negeri yang memproduksi, memproses dan menyediakan seluruh makanan yang kita nikmati.
Lalu bagaimana Allah memberi makan kepada setiap mahluk hidup (Maz. 145:16) hari ini? Bukankah melalui petani, koki, pedagang, pembuat website, supir truk, dan semua yang berkontribusi untuk menyalurkan makanan kepada kita. Luther melanjutkan: Allah dapat dengan mudah memberi kita beras dan buah-buahan tanpa harus menabur dan menanam, tetapi Ia tidak mau melakukan hal tersebut.
Ia memberikan analogi mengapa Allah bekerja seperti ini. Orang tua ingin memberikan anak-anak mereka apa saja yang mereka butuhkan, tetapi mereka juga ingin agar anak-anak mereka menjadi rajin, bersikap yang benar/baik dan bertanggung jawab. Lalu mereka memberikan tugas harian rutin kepada anak-anak mereka. Orang tua bisa saja melakukan tugas rutin harian lebih baik dari anak-anak mereka, tetapi hal tersebut tidak membantu anak-anak mereka bertumbuh menjadi lebih dewasa. Jadi, orang tua memberikan anak-anak mereka apa yang mereka butuhkan - karakter - melalui pekerjaan harian yang ditugaskan kepada mereka.
Luther menyimpulkan bahwa Allah bekerja melalui apa yang kita lakukan (pekerjaan) dengan alasan yang sama: Pekerjaan yang kita lakukan untuk Tuhan - apakah di ladang, di taman, di kota, di rumah, dalam perang, atau di pemerintahan - hanyalah pekerjaan seorang anak, yang melalui aktivitas tersebut Ia ingin memberikan anugerahNya. Ada topeng-topeng Allah, di mana Ia bersembunyi dan tetap melakukan segala sesuatu.
Dari Every Good Endeavor oleh Timothy Keller
Tuesday, September 9, 2014
Sunday, September 7, 2014
The Sacrament of the Present Moment
De
Caussade mengerti bahwa kesetiaan kita pada “tugas pada saat ini” adalah jalan
setapak kepada kekudusan. Jika buat kita tugas pada saat ini adalah untuk
memperbaiki daun pintu atau mengumpulkan/memangkas daun, maka kegiatan berdoa
atau meditasi sebagai ganti pada saat yang sama akan “merusak dan tidak berguna”.
Tidak ada momen yang tidak penting, de Caussade mengamati, karena sejak mulanya
setiap momen mengandung sebuah Kerajaan ilahi, dan topangan surgawi.
Pekerjaan/tugas
pada saat ini sebagai tempat di mana saya menemukan Tuhan tidaklah selalu
menyenangkan. Mungkin Anda juga mengalami kesulitan di saat seperti ini.
Seringkali saya ingin “melompat” saja dari saat ini, dari tugas ini, langsung
menuju ke masa depan, sesuatu masa yang lebih menantang, lebih merangsang,
lebih mendatangkan pahala. Saat seperti itulah, saya berpikir, saat di mana
Tuhan akan memberkati saya, bukan di sini, bukan dengan melakukan
tugas/perkerjaan ini.
Sebuah
kebenaran yang sederhana, tentu saja, adalah bahwa Tuhan hanya dapat memberkati
saya di mana saat ini saya berada, karena saya hanya berada di sini. Saya ambil
tugas menulis ini sebagai contoh: ada banyak tugas yang saya rasakan lebih
penting, lebih mendesak, lebih membawa hormat pada Tuhan dari pada hanya
sekedar menulis. Tetapi justru dengan menyelesaikan tugas ini saya akan
menemukan Tuhan; buat saya pekerjaan kecil ini adalah “sacrament of the present moment.”
Sebagaimana
saya sudah menyebutkan pada awal tadi, penekanan bahwa hal-hal yang umum dalam
hidup ini memiliki nilai-nilai kerohanian yang signifikan adalah sebuah tema
yang menggema kembali melalui seluruh waktu-waktu doa kita dan saat-saat
merenungkan Firman Tuhan. Waktu-waktu seperti ini mengambil hari-hari hidup
kita dan jam-jam hidup kita dan memberi arti bahwa kegiatan harian kita adalah
kegiatan yang kudus, sebuah bentuk penyembahan dan pujian buat Tuhan kita. Cara
inilah yang membuat hidup di dunia modern (yang serba cepat dan menuntut
seluruh kekuatan dan hidup kita) bisa
kita tanggung, bahkan lebih lagi, kita malah bisa bersukacita di dalamnya.
-Anonim-
Subscribe to:
Posts (Atom)